SULAWESI TENGAH — KCIC tidak hanya mengandalkan tenaga listrik untuk menggerakkan rangkaian Whoosh. Kini, armada pendukung yang bertugas memastikan keamanan jalur juga ikut beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menjelaskan, biodiesel B40 yang digunakan merupakan campuran 40 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit dengan 60 persen solar. Komposisi ini mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain.
Menekan Emisi di Jalur Kereta Cepat
Penggunaan B40 pada kereta kerja menjadi langkah konkret perusahaan dalam mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Kegiatan operasional pendukung seperti inspeksi dan pemeliharaan prasarana kini berjalan dengan emisi yang lebih rendah.
Langkah ini sejalan dengan tren pemerintah yang terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan di berbagai sektor. Biofuel berbasis sawit dinilai menjadi salah satu solusi transisi energi yang paling siap diterapkan di Indonesia, mengingat ketersediaan bahan bakunya yang melimpah.
Dampak bagi Operasional Whoosh
Dengan mengadopsi B40, KCIC berupaya memastikan seluruh rantai operasional kereta cepat, termasuk perawatan, turut berkontribusi pada target pengurangan emisi karbon. Kereta kerja berbasis diesel tetap dibutuhkan untuk tugas-tugas khusus yang tidak bisa dilakukan rangkaian listrik, terutama saat perbaikan jalur atau inspeksi di area yang membutuhkan mobilitas tinggi.
Keputusan ini juga memperkuat posisi Whoosh sebagai moda transportasi yang mengusung aspek keberlanjutan. Sebelumnya, perhatian publik lebih banyak tertuju pada penggunaan listrik sebagai tenaga penggerak utama, sementara kini aspek pendukung operasional pun mendapat perhatian serupa.
Ke depan, adopsi energi terbarukan di lingkungan KCIC diharapkan terus berkembang seiring dengan evaluasi kebutuhan operasional di lapangan.