SULAWESI TENGAH — Angka stunting di Jawa Timur masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data semester awal 2026 mencatat prevalensinya mencapai 14,7 persen, dan pemerintah menargetkan turun ke angka 12 persen pada 2027. Untuk mencapai target itu, Posyandu kembali dijadikan garda terdepan.
Penguatan ini bukan sekadar formalitas. Pelayanan di Posyandu diperketat, mulai dari penimbangan berat badan, pengukuran lingkar kepala, hingga pemberian imunisasi rutin. Aktivitas ini terlihat jelas di Kota Blitar, Rabu (12/8/2026), saat petugas melakukan pemeriksaan berkala terhadap balita di Pos Pelayanan Terpadu setempat.
Posyandu adalah unit pelayanan terkecil yang paling dekat dengan rumah warga. Fungsinya bukan hanya menimbang, tapi juga menjadi tempat deteksi dini gangguan pertumbuhan. Jika berat badan balita tidak naik dua bulan berturut-turut, petugas bisa segera merujuk ke puskesmas.
Selain itu, Posyandu menjadi jalur distribusi utama untuk imunisasi dasar lengkap dan suplementasi gizi. Dengan rutinitas bulanan ini, ibu bisa memantau perkembangan anak secara berkala tanpa harus antre lama di rumah sakit.
Pemprov Jatim memfokuskan penguatan pada tiga hal utama:
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kinerja kader. Mereka adalah relawan yang setiap bulan mengingatkan ibu-ibu untuk datang ke Posyandu. Pemerintah daerah pun terus memberikan pelatihan agar kader mampu mengoperasikan alat ukur dan membaca grafik pertumbuhan di Kartu Menuju Sehat (KMS).
Dukungan anggaran juga digelontorkan untuk memastikan ketersediaan alat timbang dan stok imunisasi di setiap Posyandu. Dengan begitu, tidak ada lagi alasan balita terlewat dari pemantauan rutin.
Meski Posyandu hadir setiap bulan, orang tua tetap perlu aktif memantau kondisi anak di rumah. Segera konsultasikan ke dokter jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti berat badan stagnan selama tiga bulan berturut-turut, tinggi badan tidak bertambah sesuai usianya, atau sering sakit sehingga nafsu makan menurun.
Peran aktif orang tua sangat menentukan. Datang ke Posyandu bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan investasi jangka panjang untuk memastikan anak tumbuh optimal dan siap belajar di masa depan.
Dengan kolaborasi antara kader, petugas kesehatan, dan kesadaran orang tua, target penurunan stunting di Jawa Timur bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.