Nilai Impor per Ton Melonjak 14,24% hingga Juni 2026, Mendag: Harga Minyak Dunia Biang Keroknya

Penulis: Gunawan Susilo  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:28:31 WIB
Nilai satuan impor migas dan nonmigas naik 14,24 persen menjadi 1.036 dolar AS per ton pada Juni 2026.

SULAWESI TENGAH — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai satuan impor migas dan nonmigas secara agregat naik dari 907 dolar AS per ton pada Maret menjadi 1.036 dolar AS per ton pada Juni 2026. Lonjakan ini menjadi tekanan utama bagi kinerja neraca perdagangan nasional yang sempat terperosok ke zona defisit pada dua bulan berturut-turut.

Budi Santoso mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi faktor dominan di balik membengkaknya nilai impor. Berdasarkan data Bank Dunia per 2 Juli 2026, harga minyak sempat bertengger di level 100 dolar AS per barel pada periode April-Mei, bahkan memuncak di kisaran 110 dolar AS per barel.

Lonjakan Harga Energi Mengerek Nilai Impor Migas dan Nonmigas

Kenaikan harga energi paling terasa pada sektor migas. Nilai satuan impor migas melonjak signifikan dari 689 dolar AS per ton pada Maret menjadi 1.042 dolar AS per ton pada Mei 2026. Meski sedikit mereda ke angka 869 dolar AS per ton pada Juni, level tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan posisi awal kuartal kedua.

Efek rambatan juga terasa pada impor nonmigas. Kemendag mencatat nilai satuan impor nonmigas naik dari 968 dolar AS per ton pada Maret menjadi 1.081 dolar AS per ton pada Juni 2026. Secara keseluruhan, kenaikan nilai satuan impor mencapai 14,24 persen dalam tiga bulan terakhir.

"April-Mei merupakan periode puncak tingginya harga minyak dunia, mencapai sekitar 110 dolar AS per barel. Kondisi ini meningkatkan nilai satuan impor per ton pada Mei dan terus berlanjut hingga Juni," ujar Budi di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Defisit Neraca Perdagangan Mulai Menyempit

Tekanan dari nilai impor yang tinggi sempat membuat neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Namun, perbaikan mulai terlihat pada Juni 2026 ketika defisit berhasil dipangkas menjadi 0,45 miliar dolar AS seiring harga minyak yang mulai menunjukkan koreksi.

Pemerintah merespons situasi ini dengan menggenjot kinerja ekspor melalui perluasan akses pasar. Saat ini Indonesia telah menjalankan 25 perjanjian perdagangan dengan berbagai negara mitra, memproses ratifikasi dua perjanjian baru, dan masih merundingkan 13 perjanjian lainnya.

Strategi Kemendag Perluas Pasar Ekspor dan Digitalisasi SKA

Untuk mendukung target ekspor, Kemendag mengoptimalkan peran 46 perwakilan perdagangan RI yang tersebar di 33 negara. Fokus utama pendampingan ditujukan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar global.

Sejak 2025, Kemendag juga mengembangkan sistem elektronik e-SKA yang mengotomatisasi penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) preferensi. Sistem ini telah mendukung kegiatan ekspor Indonesia ke sejumlah negara tujuan utama seperti Uni Emirat Arab, Hong Kong, Jepang, China, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.

Dengan memanfaatkan perjanjian dagang yang ada, pemerintah berharap surplus neraca perdagangan dapat kembali tercapai pada semester kedua 2026 seiring normalisasi harga energi global.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: borneoflash.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top