SULAWESI TENGAH — PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Industri Kereta Api (INKA) ditargetkan merger sebelum Januari 2027, dengan KAI sebagai perusahaan induk dan INKA menjadi subholding manufaktur. Konsolidasi ini bagian dari upaya pemerintah memperkuat BUMN sektor industri agar beban operasional INKA bisa ditopang bersama.
Rencana penggabungan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Industri Kereta Api (INKA) memasuki tahap pengecekan sejumlah proses yang masih harus dijalankan. Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyatakan proses merger kedua perusahaan BUMN itu masih berjalan dan belum menemui titik akhir.
Dony menyebut tenggat waktu penggabungan ditargetkan selesai sebelum awal 2027. "Mereka akan merger, tapi tanggalnya saya belum cek. Harusnya sebelum Januari sudah (merger)," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Selasa (29/9/2026).
Skema KAI Sebagai Induk, INKA Jadi Subholding
Dalam skema yang disiapkan, KAI diposisikan sebagai perusahaan induk, sementara INKA masuk sebagai subholding manufaktur. Penempatan ini membuat INKA berada di bawah payung KAI, bukan lagi beroperasi sebagai entitas yang berdiri sendiri.
Dony menjelaskan konsolidasi ini bagian dari upaya pemerintah memperkuat perusahaan BUMN di sektor manufaktur. Penggabungan tersebut diharapkan membuat beban operasional INKA dapat ditopang bersama oleh perusahaan induknya, KAI.
Alasan di Balik Konsolidasi
Pemerintah menilai sektor industri manufaktur punya peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja. Dony menyebut INKA sebagai salah satu BUMN yang diharapkan tumbuh dan berkembang lewat penggabungan ini.
"Memang kedepannya kita mau menjadikan BUMN di sektor industri itu akan tumbuh dan berkembang. Karena sektor industri itu membuka lapangan pekerjaan yang banyak, salah satunya adalah INKA," tambahnya.
Langkah ini menempatkan Danantara sebagai pihak yang merestui arah konsolidasi kedua perusahaan. KAI sendiri sebelumnya menargetkan akuisisi INKA rampung pada akhir 2026, lebih cepat dari tenggat yang disebut Dony.
Dampak ke Operasional Kereta
INKA selama ini memproduksi rangkaian kereta yang dipakai KAI dan anak usahanya. KAI Commuter, misalnya, mengoperasikan dua rangkaian KRL baru buatan INKA di lintas Bogor. Jika merger rampung, rantai pasok antara produsen dan operator kereta berada dalam satu grup usaha.
Bagi penumpang, penggabungan ini berpotensi memangkas jarak koordinasi antara pembuat kereta dan pihak yang mengoperasikannya. Proses pengadaan, perawatan, hingga penyesuaian spesifikasi rangkaian bisa berjalan lebih singkat karena berada di bawah satu induk.
Sejauh mana dampaknya ke layanan bergantung pada skema final yang disepakati. Dony belum memerinci tanggal pasti maupun tahapan yang tersisa, hanya memastikan target penyelesaian sebelum Januari 2027.
Yang Masih Harus Ditunggu
Sejumlah proses administratif dan pengecekan masih harus dilewati sebelum merger bisa dieksekusi. Pemerintah belum mengumumkan nilai transaksi, komposisi kepemilikan saham pasca-merger, maupun posisi manajemen INKA di bawah KAI.
Jika target terpenuhi, KAI akan menjadi grup usaha yang menaungi operator sekaligus produsen kereta nasional. Konsolidasi ini menjadi salah satu langkah terbesar pemerintah dalam menata ulang BUMN sektor manufaktur dan transportasi dalam beberapa tahun terakhir.