DONGGALA — Kelompok Tenun Subi MELATI di Desa Limboro selama ini mengandalkan enam unit alat tenun gedogan untuk sepuluh anggota aktif. Kondisi itu memaksa penenun bergantian memakai alat dan membuat kapasitas produksi belum mengejar potensi permintaan pasar. Teknologi sensor yang dipasang tim Universitas Tadulako menyasar persoalan ketepatan motif, bukan menggantikan peran penenun.
Perangkat dipasang langsung pada alat tenun tradisional yang diwariskan turun-temurun. Tidak ada mesin otomatis yang mengambil alih proses menenun. Sistem hanya mendeteksi aktivitas tenun dan menampilkan progres pengerjaan motif di layar, sehingga penenun lebih mudah memantau perkembangan pekerjaannya.
Mengapa Ketepatan Motif Jadi Persoalan Utama
Menenun Tenun Donggala berbeda jauh dari produksi tekstil bermesin. Satu lembar kain bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, bergantung kerumitan motif. Ketegangan benang harus dijaga agar tidak kendor maupun tegang. Pengulangan motif dihitung manual supaya pola tetap simetris.
Kesalahan kecil berdampak besar. Motif bisa bergeser dan penenun terpaksa mengulang sebagian pekerjaan yang sudah dikerjakan. Motif khas seperti Buya Subi, Buya Bomba, Buya Cura, dan Buya Awi menyimpan makna filosofis, sehingga perubahan bentuk motif menurunkan nilai estetika kain.
Sistem monitoring yang dikembangkan memberi alat bantu visual untuk memantau progres motif secara lebih sistematis. Penenun tetap memegang kendali penuh atas proses menenun, sementara ketepatan pola terjaga.
Standar Mutu Baru untuk Kelompok Penenun
Program pengabdian itu juga menghasilkan standar mutu dan checklist pemeriksaan kualitas produk. Isinya mencakup kondisi benang, kerapatan kain, ketepatan motif, ukuran produk, serta cacat produksi. Standar ini menjadi acuan bagi kelompok agar kualitas hasil tenun lebih konsisten.
Kelompok Tenun Subi MELATI beranggotakan sepuluh perempuan penenun, sebagian besar ibu rumah tangga. Menenun menjadi sumber pendapatan keluarga sekaligus sarana menjaga identitas budaya yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan sejak usia muda.
Teknologi yang Tidak Menggusur Tradisi
Pendekatan tim Universitas Tadulako sengaja tidak mengarah pada otomatisasi. Perangkat dikembangkan dengan menyesuaikan karakteristik alat tenun gedogan yang dipakai masyarakat Limboro. Mikrokontroler ESP32-S3, sensor gerak MPU6050, dan layar pintar Nextion dipilih karena bisa dipasang tanpa mengubah konstruksi dasar alat tenun.
Desa Limboro di Kecamatan Banawa Tengah dikenal sebagai salah satu sentra penghasil Tenun Donggala. Bagi warga setempat, menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya yang bertahan di tengah masuknya produk tekstil modern.
Keterbatasan sarana produksi tetap menjadi pekerjaan rumah. Enam unit alat tenun untuk sepuluh penenun aktif membuat kapasitas produksi belum optimal. Rumah produksi kelompok menjadi pusat aktivitas harian para penenun dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Donggala.