SULAWESI TENGAH — Pemerintah tidak lagi memandang badan usaha milik negara (BUMN) sekadar sebagai mesin setoran dividen tahunan. Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa laba perusahaan pelat merah kini diarahkan untuk membiayai proyek-proyek strategis yang berdampak luas pada perekonomian nasional.
"Keuntungan BUMN sekarang kita gunakan untuk mempercepat upaya hilirisasi kita," ujar Prabowo di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Melalui Danantara, pemerintah telah memulai pembangunan 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026, menyusul 13 proyek lainnya pada 29 April 2026. Proyek-proyek ini tersebar di sektor energi, mineral, dan industri pengolahan.
Beberapa proyek yang masuk dalam daftar tersebut antara lain pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, serta smelter alumina menjadi aluminium. Prabowo menyebut proyek-proyek ini mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja baru.
"Proyek-proyek seperti pengolahan batu bara menjadi DME, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, dan smelter alumina menjadi aluminium ini menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja baru," jelasnya.
Pemerintah juga mulai menggarap proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy di sejumlah kota besar.
Kinerja keuangan BUMN sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Prabowo melaporkan keuntungan perusahaan pelat merah mencapai Rp 326 triliun, meningkat 75,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp 186 triliun setelah dikoreksi.
Setoran dividen kepada negara juga ikut melonjak. Pada 2025, dividen yang disetorkan mencapai Rp 142,3 triliun, naik 67 persen dari posisi 2024 sebesar Rp 85,5 triliun.
Yang lebih menarik, dividen bersih setelah dikurangi penanaman modal negara (PMN) meningkat signifikan dari Rp 53 triliun pada 2024 menjadi Rp 138 triliun pada 2025. Artinya, ketergantungan BUMN terhadap suntikan modal negara semakin menurun.
Untuk 2026, pemerintah memproyeksikan dividen BUMN mencapai Rp 200 triliun, dan kali ini tanpa adanya PMN sama sekali.
Pemanfaatan keuntungan BUMN tidak berhenti di hilirisasi. Prabowo menyebut pemerintah juga memperkuat sektor hulu alias upstreaming sambil mempercepat hilirisasi.
Langkah yang lebih berani adalah akuisisi perusahaan-perusahaan kelas dunia melalui Danantara. Prabowo menyatakan pembelian ini bertujuan menguasai teknologi, manajemen, dan akses pasar yang selama ini menjadi hambatan ekspansi industri nasional.
"Kita beli perusahaan-perusahaan terbaik dunia, untuk mendapatkan teknologinya, manajemennya, pasarnya, yang bisa membantu jadikan Indonesia bagian dari rantai pasok dunia," kata Prabowo.
Strategi ini diharapkan mengubah posisi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok global, sekaligus meningkatkan nilai tambah domestik secara berkelanjutan.