SULAWESI TENGAH — Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% meski The Federal Reserve menaikkan suku bunganya. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut inflasi inti yang masih di kisaran 2% menjadi jangkar utama kebijakan, di samping simulasi dampak kenaikan bunga terhadap pertumbuhan ekonomi.
Keputusan tersebut disampaikan Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026). Menurutnya, BI melakukan assessment dan simulasi sebelum menetapkan sikap, termasuk menghitung konsekuensi kenaikan bunga acuan terhadap perekonomian domestik.
Hasil simulasi internal BI menunjukkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. Angka itu menjadi pertimbangan utama bank sentral untuk tidak serta-merta mengikuti langkah The Federal Reserve.
Dampak kenaikan bunga dinilai menyebar ke seluruh sektor ekonomi. "Karena kalau naikkin BI itu dampaknya langsung kena semuanya gitu," kata Destry.
Selain pertumbuhan, BI menjadikan inflasi sebagai jangkar kebijakan. Destry menyebut pihaknya masih nyaman dengan kondisi harga saat ini, terutama karena inflasi inti bertahan di sekitar 2%.
"Anchor kita inflasi dan saat ini juga kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini. Apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2%-an. Bahwa core headline inflation akhirnya mencapai 3,19%," ujarnya.
Alih-alih menaikkan bunga acuan, BI memilih instrumen yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong arus modal masuk. Salah satunya insentif biaya hedging bagi investor asing yang menempatkan dana di pasar domestik.
Melalui insentif itu, investor yang masuk mendapat margin cost lebih murah dibandingkan jika BI menaikkan bunga secara umum. "Tapi kalau kita bermain targeted seperti yang kita lakukan untuk si insentif itu, dampaknya kan hanya kepada si info yang akan masuk," kata Destry.
Destry menegaskan BI akan terus mengombinasikan berbagai instrumen kebijakan. Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi perhatian utama, terlebih mandat bank sentral kini bertambah.
"Mau nggak mau memang kita harus selalu mengkombinasikan kebijakan itu, karena pertumbuhan tetap menjadi concern kita karena mandat kita kan bertambah," ujarnya.
Bagi pelaku pasar, sikap BI ini memberi sinyal bahwa ruang pengetatan moneter melalui bunga acuan kemungkinan terbatas dalam waktu dekat. Fokus kebijakan bergeser ke instrumen likuiditas dan insentif valas untuk menahan tekanan modal keluar tanpa mengorbankan laju pertumbuhan.