SULAWESI TENGAH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026/2027 datang lebih mundur dan berdurasi lebih singkat di 529 zona musim atau 61,08 persen luas daratan Indonesia. Kombinasi El Nino sangat kuat dan IOD positif disebut sebagai pemicu utama pergeseran pola hujan ini. Puncak musim hujan tetap diperkirakan terjadi Desember hingga Februari.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan kombinasi dua fenomena iklim yang terjadi bersamaan memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Dampaknya, musim hujan datang terlambat dan berlangsung lebih singkat dari biasanya.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bertajuk "Prediksi Musim Hujan" yang digelar secara daring pada Selasa (22/9).
Pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 tercatat +2,83. Nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) mencapai +2,63, angka yang mengindikasikan El Nino sangat kuat.
Di Samudra Hindia, indeks IOD bulan Agustus berada di +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun. Dua anomali ini bergerak bersamaan dan menekan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Faisal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi bersamaan. Sebanyak 185 zona musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen wilayah akan mengawali musim hujan pada November.
Sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember. Jika dibandingkan rerata klimatologisnya, 529 ZOM atau 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami musim hujan mundur.
Hanya 11 ZOM atau 1,12 persen luas daratan yang mengalami musim hujan lebih cepat. Sementara 26 ZOM atau 2,15 persen luas daratan memasuki musim hujan sesuai normalnya.
Meski durasinya lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM yang mencakup 69,76 persen luas daratan Indonesia. Namun, 147 ZOM atau 18,55 persen luas daratan perlu diwaspadai karena sifat hujannya lebih basah dari normal.
Hanya 42 ZOM atau 11,69 persen luas daratan yang diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering.
"Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55% luas daratan Indonesia) karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69%) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering," terang Ardhasena.
BMKG memperkirakan durasi musim hujan 2026/2027 lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia. Sebanyak 60 ZOM atau 8,58 persen luas daratan justru mengalami musim hujan lebih panjang.
Sementara 40 ZOM atau 5,06 persen luas daratan memiliki durasi musim hujan yang sama dengan normalnya. Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari.
Bagi pelaku sektor pertanian dan pengelola wilayah rawan banjir, pergeseran jadwal tanam dan kesiapan drainase menjadi konsekuensi langsung dari pola hujan yang mundur ini. Pemantauan rutin terhadap pembaruan prediksi BMKG per zona musim menjadi langkah antisipasi paling praktis.